PerDetik.Com, jantung Ibu Kota Jakarta, yang selalu berdenyut dengan gemerlap cahaya dan hiruk pikuk aktivitas, menampilkan pemandangan yang kontras pada Sabtu malam, 13 Juni 2026. Kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), yang lazimnya bermandikan cahaya terang dari berbagai sudut, untuk sesaat terbalut dalam selubung kegelapan. Momen hening visual ini bukanlah insiden, melainkan sebuah pernyataan.
Tepat pukul 20.30 WIB, serentak dengan instruksi yang telah ditetapkan, lampu-lampu jalan di sekeliling Bundaran HI mulai dipadamkan secara bertahap. Suasana terang benderang yang menjadi ciri khas ikonik Jakarta itu perlahan meredup, digantikan oleh keheningan yang tak biasa, sebuah tribut simbolis dalam rangka peringatan Hari Lingkungan Hidup.
Tidak hanya penerangan jalan, Monumen Selamat Datang yang gagah berdiri di tengah bundaran, yang biasanya disorot lampu-lampu megah hingga tampak menonjol di malam hari, kini hanya menyisakan siluet samar. Pancaran cahaya yang memahat figur dan gerak patung tersebut untuk sementara waktu ditiadakan, membuatnya seolah beristirahat dari tatapan ribuan mata yang melintas.
Lebih lanjut, deretan papan iklan digital atau videotron raksasa yang mengelilingi Bundaran HI, yang biasanya menampilkan tayangan warna-warni dan pesan dinamis, juga ikut dinonaktifkan. Area yang kerap memancarkan spektrum cahaya dari gedung-gedung pencakar langit di sekitarnya kini tampak lebih tenang, menciptakan suasana yang berbeda dari biasanya, jauh dari keramaian visual.
Di tengah suasana yang tidak biasa ini, beberapa pengunjung anjungan Bundaran HI memanfaatkan momen unik tersebut untuk mengabadikannya dalam swafoto. Latar belakang yang biasanya berbinar dengan kilau cahaya, kini menawarkan nuansa yang lebih dramatis dan gelap, memberikan dimensi baru pada potret malam mereka.
Salah seorang pengunjung bernama Purwanto, mengaku sempat diliputi kebingungan akan perubahan mendadak ini. Ia datang tanpa informasi sebelumnya mengenai agenda pemadaman lampu serentak tersebut. "Saya tidak tahu kalau lagi ada pemadaman lampu di area ini. Ini juga baru pertama kali saya ke sini, jadi rasanya kayak biasa saja. Tapi memang suasananya terasa agak gelap sih," ungkap Purwanto, mengamati perubahan atmosfer di sekelilingnya.
Pengunjung lain, Heni (21) dan Pika (23), juga merasakan perbedaan mencolok pada visual Bundaran HI malam itu. Pika dengan cepat menyadari hilangnya cahaya yang biasanya terpancar dari papan iklan dan sorotan monumen. "Iya, biasanya kan di sini terang banget, tapi sekarang gelap," ujarnya, membandingkan dengan kunjungan-kunjungan sebelumnya.
Heni menambahkan bahwa ia sempat membaca informasi mengenai aksi lingkungan ini, meskipun detail waktu pelaksanaannya tidak begitu melekat dalam ingatannya. Keduanya menyatakan dukungan penuh terhadap inisiatif hemat energi tersebut, melihatnya sebagai langkah positif untuk lingkungan.
Bagi mereka, mematikan lampu selama enam puluh menit adalah sebuah kontribusi kecil yang tidak mengganggu aktivitas warga secara signifikan, meskipun sedikit menyulitkan bagi mereka yang ingin mendapatkan hasil swafoto yang optimal. "Dukung saja kalau tujuannya memang untuk hemat energi. Satu jam juga menurut saya tidak terlalu mengganggu aktivitas ya. Cuma ya itu, paling buat foto-foto aja yang hasilnya jadi agak kurang bagus karena gelap, hehehe," pungkas Pika sembari tertawa ringan, menyiratkan bahwa tujuan yang lebih besar jauh lebih penting.
Meskipun sebagian besar penerangan umum dipadamkan, arus lalu lintas di sekitar Bundaran HI tetap terpantau lancar dan terkendali. Kendaraan yang melintas di jalan-jalan protokol tersebut hanya mengandalkan cahaya dari lampu utama masing-masing kendaraan, serta rambu lalu lintas yang tetap berfungsi, menunjukkan adaptasi dan ketertiban pengguna jalan.
Aksi pemadaman lampu ini direncanakan berlangsung selama satu jam penuh, dimulai dari pukul 20.30 WIB hingga 21.30 WIB. Kegiatan ini merupakan bagian integral dari upaya penghematan energi yang secara rutin diinisiasi oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta. Inisiatif ini bukan sekadar rutinitas, melainkan sebuah manifestasi konkret dari komitmen dan kepedulian pemerintah daerah terhadap isu-isu lingkungan dan keberlanjutan.
Lingkup pemadaman lampu ini tidak terbatas pada Bundaran HI semata, melainkan menjangkau area yang lebih luas di seluruh Ibu Kota. Merujuk pada unggahan resmi Pemprov DKI Jakarta, aksi ini melibatkan seluruh bangunan dan gedung milik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, kecuali fasilitas pelayanan kesehatan esensial seperti rumah sakit, Puskesmas, dan klinik, yang tetap beroperasi penuh demi keselamatan dan kenyamanan publik.
Partisipasi dalam kegiatan ini juga meluas ke sektor swasta, di mana sejumlah gedung komersial, pusat perbelanjaan, restoran, hotel, dan apartemen turut menunjukkan dukungan mereka dengan memadamkan penerangan. Kolaborasi antara pemerintah dan sektor swasta ini menggarisbawahi pentingnya tanggung jawab kolektif dalam menjaga kelestarian lingkungan.
Beberapa ruas jalan protokol dan arteri utama di Jakarta juga menjadi bagian dari zona pemadaman lampu. Di Jakarta Pusat, meliputi area strategis seperti Jalan Sudirman (mulai dari Dukuh Atas hingga Gedung Sampoerna Strategic), Jalan MH Thamrin, kawasan Jalan Medan Merdeka—termasuk Medan Merdeka Utara di depan Istana Presiden—serta Jalan Gerbang Pemuda hingga Jalan Asia Afrika. Halaman Kantor Balai Kota DKI Jakarta dan Kantor Wali Kota Jakarta Pusat pun turut gelap sejenak.
Bergeser ke Jakarta Utara, pemadaman lampu diterapkan di sepanjang Jalan Yos Sudarso dan Jalan Perintis Kemerdekaan, serta di kompleks Kantor Wali Kota Jakarta Utara. Sementara itu, di Jakarta Timur, aksi serupa dilaksanakan di Jalan Dr. Sumarno dan Jalan Perintis Kemerdekaan, termasuk kompleks Kantor Wali Kota Jakarta Timur.
Di wilayah Jakarta Barat, penerangan juga dipadamkan di Jalan Daan Mogot, Jalan Kembangan Raya di depan Kantor Wali Kota Jakarta Barat, dan di kompleks Kantor Wali Kota Jakarta Barat. Tidak ketinggalan, Jakarta Selatan turut serta dengan memadamkan lampu di Jalan Prapanca Raya, Jalan Gerbang Pemuda hingga Jalan Asia Afrika, Jalan Sudirman dari Gedung Sampoerna Strategic hingga Patung Pemuda, Gedung Wali Kota Jakarta Selatan, serta sepanjang Jalan HR Rasuna Said.
Selain ruas jalan dan gedung pemerintahan, sejumlah simbol dan monumen kebanggaan Ibu Kota Jakarta juga ikut serta dalam aksi pemadaman lampu selama satu jam. Ini termasuk Gedung Balai Kota DKI Jakarta, Monumen Nasional (Monas) yang menjulang tinggi, Patung Arjuna Wiwaha, Bundaran Hotel Indonesia itu sendiri, Patung Pemuda, Patung Pahlawan, dan Patung Jenderal Sudirman. Pemadaman pada ikon-ikon ini memberikan pesan yang lebih kuat tentang keseriusan dan cakupan inisiatif lingkungan ini.
Aksi ini, meski hanya berlangsung sejenak, adalah pengingat bahwa setiap individu dan entitas memiliki peran dalam menjaga bumi. Dari kegelapan sementara di jantung Jakarta, terpancar harapan akan masa depan yang lebih hijau dan berkelanjutan.
Sumber: news.detik.com